Browse Author

admin

Pilih Mana? Punya Rumah Dulu atau Menikah Dulu?

Couple holding hands

Memiliki rumah dan menikah adalah impian sebagian besar orang, bahkan mungkin semua orang. Menikah dan memiliki rumah adalah dua hal yang sama-sama memiliki tingkat urgensi yang tinggi. Sebuah keberuntungan apabila kedua hal tersebut mampu diwujudkan secara bersamaan. Namun, tidak jarang bagi mereka harus memprioritaskan salah satu terlebih dahulu, karena beberapa kendala. Hal tersebut sangatlah wajar, karena tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang tinggi. Jika kita dihadapkan pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk mewujudkan keduanya secara bersamaan, mau tidak mau kita harus berpikir cerdas menentukan mana yang lebih penting.

Menikah adalah sebuah pilihan hidup yang disertai dengan tanggung jawab besar. Baik tanggung jawab terhadap Tuhan, orang tua, keluarga, mertua, pasangan, dan juga anak. Karena dilihat sebagai tanggung jawab yang besar, terkadang kita ingin memaksimalkan kehidupan semapan mungkin, baik yang berupa finansial maupun kebutuhan penting lainnya, yang salah satunya adalah rumah. Keinginan untuk memiliki rumah didasari karena dalam memenuhi tanggung jawab ke depannya, kita tidak ingin terkendala dengan masalah tempat tinggal. Karena bagaimanapun juga, rumah merupakan tempat utama untuk memulai sebuah kehidupan baru, dengan segala aktivitas dan kebutuhan baru.

Meskipun keduanya sangatlah penting, namun ada satu yang sebaiknya diutamakan, yakni menikah. Mengapa? Pertama, karena menikah adalah sebuah proses belajar bersama dari titik nol antara suami dengan istri. Intinya adalah sebuah usaha bersama untuk membangun kehidupan bersama. Alangkah baiknya jika suami dan istri betul-betul merasakan membangun kehidupan bersama dari nol. Mungkin di awal kehidupan baru, kita masih tinggal bersama dengan orang tua atau mertua. Namun tak perlu khawatir nantinya akan menjadi tidak mandiri. Meskipun belum memiliki rumah, bukan berarti kita  tidak mandiri ya. Kita masih bisa kos atau kontrak rumah. Meskipun berat, hal itu penting untuk dilalui agar kita dan pasangan sama-sama mengerti bagaimana berjuang bersama, mengerti bagaimana bersusah payah bersama. Nilai tersebut jauh lebih mahal dibandingkan dengan mereka yang sudah mapan dan langsung menikmati hasil ketika di atas. Padahal hidup itu berputar seperti roda. Kita tidaktahukapankitaberada di atasdankapankitaberada di bawah.

Kedua, melatih kesetiaan. Sebagai pasangan yang masih berusaha membangun kehidupan dari nol, kadangkala kita mengeluh atas kesulitan-kesulitan yang dialami. Pada titik ini, kita bisa melihat bagaimana sebenarnya pasangan kita. Apakah dia mampu bertahan menikmati proses bersama, atau dia justru menyerah. Tidak sedikit pasangan yang gagal dalam pernikahan mereka karena masalah finansial. Tidak sedikit mereka yang hanya ingin menikmati hidup ketika sedang berada di atas. Apabila pasangan mampu berproses bersama dari awalketikaberada di bawah, maka ia adalah orang yang tepat untuk kita ajak melanjutkan kehidupan bersama. Ketiga, usia produktf wanita. Banyak pasangan yang menunda pernikahan karena belum memiliki rumah. Penundaan tersebut terkadang berakhir dengan perpisahan, karena kekhawatiran pihak wanita yang usianya semakin tua. Usia produktif wanita adalah antara 22 hingga awal tiga puluhan. Kita harus memikirkan hal ini, karena apabila pihak wanita semakin tua, produktivitas ke depannya juga akan terkendala. Wanita yang semakin tua akan semakin berisiko untuk mengandung.Perlu diketahui juga, semakin kita berusia tua dalam memiliki anak, kebutuhan anak bisa menjadi terhambat.Sebagai contoh, ketika anak memasuki bangku sekolah SMA atau kuliah, banyak orang tuanya yang sudah pensiun. Tentunya hal ini tidak anda inginkan bukan?